Selasa, 02 Januari 2018

Kisah Ramayana




Pada hari senin, 27 November 2017 adalah salah satu hari yang berkesan bagi saya pribadi. Hari tersebut adalah kali pertama saya dapat menyaksikan pertunjukan wayang secara live karena pertunjukan wayang di daerah saya selalu dimulai larut malam. Saya pernah menyaksikan pertunjukkan wayang, tetapi hanya melalui televisi.

Pertunjukkan wayang di Museum Sonobudoyo tersebut bercerita tentang kisah Ramayana. Kisah Rama, Shinta, Hanoman dan Rahwana tentu bukan cerita yang asing bagi saya, namun menikmati cerita tersebut dalam balutan musik gamelan, nyanyian sinden, dan suara dalang adalah hal yang baru. Pertunjukkan tersebut sebagian besar dihadiri oleh turis-turis asing. Para kawula muda Indonesia yang menontonpun adalah teman-teman PEP B yang memang diberi tugas untuk menyaksikan wayang.

Wayang adalah boneka tiruan orang yang terbuat dari pahatan kulit atau kayu dan sebagainya yang dimanfaatkan untuk memerankan tokoh dalam pertunjukan drama tradisional dan dimainkan oleh seseorang yang disebut dalang. Wayang memiliki nilai-nilai pelajaran hidup yang disampaikan secara tersurat dan tersirat. Selain nilai-nila kehidupan, nilai-nilai keindahan yang apik dan menarik juga dijumpai pada seni pertunjukkan wayang. Dalam pertunjukkan wayang terdapat harmonisasi musik gamelan jawa, tembang-tembang yang dinyanyikan sinden, serta kepiawaian suara dan gerakan dalang dalam memerankan berbagai lakon cerita.
  
Kata ramayana sendiri berasal dari kata Rama dan Ayana. Dalam bahasa sansekerta Ayana bermakna perjalanan, jadi kisah ramayana sendiri bercerita tentang perjalanan Rama. Kisah ramayana dikenal dengan cerita penculikan Dewi Sinta (istri Rama) oleh Rahwana. Rama yang dibantu oleh Hanoman dan pasukan kerauntuk merebut Shinta dari Rahwana. Pada akhir cerita, Rahwana dikalahkan oleh Rama dengan menggunakan panah sakti.

Selain kisah Ramayana, dalam pertujukkan wayang di Museum Sonobudoyo juga tidak meninggalkan cerita Punokawan karena memang pementasan wayang hampir selalu dibumbui dengan cerita lucu para Punokawan. Punokawan terdari dari Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Hal yang paling khas dari keberadaan punokawan adalah sebagai kelompok penebar humor di tengah-tengah jalinan cerita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar