Pada hari senin, 27
November 2017 adalah salah satu hari yang berkesan bagi saya pribadi. Hari
tersebut adalah kali pertama saya dapat menyaksikan pertunjukan wayang secara
live karena pertunjukan wayang di daerah saya selalu dimulai larut malam. Saya
pernah menyaksikan pertunjukkan wayang, tetapi hanya melalui televisi.
Pertunjukkan wayang di
Museum Sonobudoyo tersebut bercerita tentang kisah Ramayana. Kisah Rama,
Shinta, Hanoman dan Rahwana tentu bukan cerita yang asing bagi saya, namun
menikmati cerita tersebut dalam balutan musik gamelan, nyanyian sinden, dan suara
dalang adalah hal yang baru. Pertunjukkan tersebut sebagian besar dihadiri oleh
turis-turis asing. Para kawula muda Indonesia yang menontonpun adalah
teman-teman PEP B yang memang diberi tugas untuk menyaksikan wayang.
Wayang adalah boneka
tiruan orang yang terbuat dari pahatan kulit atau kayu dan sebagainya yang
dimanfaatkan untuk memerankan tokoh dalam pertunjukan drama tradisional dan
dimainkan oleh seseorang yang disebut dalang. Wayang memiliki nilai-nilai
pelajaran hidup yang disampaikan secara tersurat dan tersirat. Selain
nilai-nila kehidupan, nilai-nilai keindahan yang apik dan menarik juga dijumpai
pada seni pertunjukkan wayang. Dalam pertunjukkan wayang terdapat harmonisasi
musik gamelan jawa, tembang-tembang yang dinyanyikan sinden, serta kepiawaian
suara dan gerakan dalang dalam memerankan berbagai lakon cerita.
Kata ramayana sendiri
berasal dari kata Rama dan Ayana. Dalam bahasa sansekerta Ayana bermakna
perjalanan, jadi kisah ramayana sendiri bercerita tentang perjalanan Rama.
Kisah ramayana dikenal dengan cerita penculikan Dewi Sinta (istri Rama) oleh
Rahwana. Rama yang dibantu oleh Hanoman dan pasukan kerauntuk merebut Shinta
dari Rahwana. Pada akhir cerita, Rahwana dikalahkan oleh Rama dengan
menggunakan panah sakti.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar