Pada pertemuan kuliah filsafat keempat, seperti biasa perkuliahan diawali dengan kuis isian singkat dan lagi-lagi nol mendominasi perolehan nilai di kelas. Setelah kuis usai, perkuliahan memasuki sesi tanya jawab. Salah satu pertanyaan yang menarik perhatian saya adalah pertanyaan yang diajukan oleh Muhammad Sabri. Saudara Sabri bertanya mengenai sejauh mana ibadah dalam mempengaruhi hati, pikiran, dan tindakan manusia.
Ibadah adalah breakdown dari aturan-aturan Tuhan yang
diturunkan lewat kitab suci. Insan yang bertaqwa adalah insan mentaati aturan Tuhan, artinya insan tersebut melaksanakan perintah-peritah Tuhan dan menjauhi larangan Tuhan. Melaksanakan ibadah seperti sholat lima waktu, pergi ke gereja, mengunjungi pura, dan lain sebagainya merupakan bayangan dari aturan-aturan Tuhan. Bayangan yang maksud dapat diterjemahkan sebagai sesuatu yang terlihat. Artinya, tidak satu detikpun dalam hidup manusia yang lepas dari pengawasan Tuhan.
Tuhan menciptakan manusia untuk beribadah kepadaNya. Tapi bukan berarti jika manusia tidak beribadah lantas kekuasaan Tuhan berkurang. Tidak sedikitpun kekuasaan Tuhan berkurang, manusialah yang membutuhkan ibadah. Manusialah yang membutuhkan ketenangan dalam jiwanya, membutuhkan kedamaian dalam hatinya, membutuhkan ketentraman dalam hidupnya. Dan sebenar-benar tenang, damai, dan tentram hanya didapatkan oleh hati yang ikhlas beribadah kepada Tuhannya.
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang religius. Hal tersebut terbukti dalam ideologi Bangsa Indonesia yakni pancasila. Sila pertama pancasila adalah ketuhanan yang Maha Esa, yang maknanya segala hal dalam kehidupan berbangsa dan bernegera dilandaskan pada nilai-nilai agama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar