Selasa, 24 Oktober 2017

Perjalanan filsafat



(refleksi pertemuan ketiga)

Filsafat pada saat ini termasuk ke dalam masa filsafat bahasa dan telah meninggalkan masa kontemporer atau modern. Filsafat adalah modus atau narasi besar para filsuf. Dari awal perkembangan sampai akhir, filsafat adalah isme. Isme berarti pusat, misalnya humanisme yang memiliki makna manusia sebagai pusatnya.

Berhati-hatilah dengan filsafat karena filsafat adalah pusatnya. Berfilsafat adalah pola pikir. Pikiranlah yang mengatur perkataan keluar dari mulut dan pikiran juga yang mendasari segala tindakan. Perkataan dan tindakan yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi kebiasaan dan kebiasaan akan membentuk sifat atau watak.  Berfilsafatlah dengan baik maka sifat juga akan menjadi baik.

Kapitalisme mengandung makna bangunan kapital sebagai pusatnya. Materialisme mengandung makna berpusat pada materi. Pragmatisme mengandung makna praktis yang menghasilkan dan menguntungkan, sementara utilitarian makna asas manfaat, sedangkan liberalisme mengandung makna berpusat pada liberal. Kapitalisme, materialisme, pragmatisme, utilitarian, dan liberalisme, semua itu terbungkus pada Pos Modernisasi.


(gambar tersebut saya ambil dari https://www.viva.co.id)

Selasa, 17 Oktober 2017

Sesuai Ruang dan Waktu

Sebenar-benar masa lalu adalah kodrat atau takdir, sementara takdir adalah pilihan yang telah anda pilih di masa lalu. Sehingga masa depan anda adalah memilih dan apa yang ada di depan anda adalah pilihan. Anda dapat memilih gelap atau terang dan anda dapat memilih antara baik atau buruk, karena sebenar-benar hidup adalah pilihan. Masa depan anda esok adalah pilihan yang anda ambil sekarang.

Semua hal di dunia mempunyai potensi. Manusia memiliki potensi, hewan dan tumbuhan memiliki potensi, bahkan batu pun memiliki potensi. Saya memiliki potensi begitu pun juga anda. Banyak sekali potensi yang kita miliki. Potensi kita untuk mati, potensi untuk membesar, potensi untuk jatuh, potensi untuk bangkit dan lain sebagainya. Apa yang kita lakukan sekarang adalah sedang mengada. Semua yang ada itu adalah potensi. Saya dan anda dapat mengada karena memiliki kesempatan untuk memilih. Kita berasal dari potensi vatal dan vital dan apa yang ada di belakang kita adalah epoche.

Manusia pasti akan mati dan binasa, tetapi sebenar-benar manusia tidak akan pernah mati karena setalah mati pun manusia akan hidup lagi untuk mempertanggungjawabkan amal dan perbuatan yang telah diperbuat. Mati mempunyai definisi yang bermacam-macam. Menurut filsafat, manusia mati ketika tidak lagi berpikir. Jadi ketika tidur manusia dalam keadaan mati karena ketika tidur manusia sedang tidak berpikir. Mati secara spiritual berbeda dengan mati secara filsafat. Secara spiritual, mati adalah ketika manusia tidak dalam keadaan berdoa.

Sebenar-benarnya orang bijaksana adalah yang sesuai ruang dan waktunya. Apa yang ada diatas kita adalah prinsip dan apa yang ada dibawah kita adalah bayangan. Prinsip yang paling tinggi adalah prinsip tunggal dari Tuhan Yang Maha Esa, kemudian diturunkan menjadi prinsip agama dan prinsip bernegara dan diturunkan lagi menjadi prinsip individu yang plural. Individu bersifat plural karena terikat ruang dan waktu. Diri kita di saat nanti dan sekarang pun berbeda. Manusia sifatnya berubah-ubah sesuai ruang dan waktunya.


(gambar tersebut saya ambil dari http://rudicahyo.com)

Filsafat Cerminan Diri




Filsafat adalah pola pikir maka sebenar-benar filsafat adalah dirimu sendiri. Dirimu sendiri yang menguraikan dan menjelaskan apa yang dirimu pikir tentang filsafat. Landasan yang paling hakiki dan paling pokok untuk berpikir adalah landasan spiritual atau landasan agama. Maka dari itu landasan negara Republik Indonesia adalah pancasila yang dalam sila pertama pancasila terkandung asas ketuhanan yang Maha Esa.

Landasan bertumbuh dari bawah ke atas. Sementara itu, jika kita ingin mencari hakikat atau realitas sesuatu maka kita harus melihat landasan dari atas ke bawah. Landasan dari kuasa Tuhan turun menjadi ayat-ayatNya kemudian menjelma pedoman dan aturan. Pemodan dan aturan itulah yang sampai pada pemikiran dan perilaku manusia.

Bahasa dalam filsafat adalah bahasa analog. Bahasa analog adalah bahasa yang lebih tinggi dari perumpamaan, kiasan, dan konotatif. Paradigma mengatur jiwa. Manusia tidak akan mengerti jiwa, manusia hanya mengerti gejala-gejala jiwa. Salah satu jenis paradigma adalah paradigma membangun, misalnya membangun rumah tangga, membangun akhirat, membangun ilmu , membangun ekonomi, membangun rumah, dsb. Membangun spiritual artinya membangun iman dan taqwa. Menghadiri kuliah atau sekolah artinya sedang membangun ilmu pengetahuan. Sebenar-benar membangun yang bermakna adalah jika kita diri sendiri yang membangun. Manusia dikaruniai bermacam-macam kecerdasan untuk membangun diri, misalnya kecerdasan intuitif, kecerdasan profesional, kecerdasan spiritual, kecerdasan berdasarkan genetika, dan lain sebagainya.

Sebenar-benar ilmu adalah bertanya. Dalam mencari ilmu, kekacauan pikiran adalah salah satu tanda bahwa diri kita sedang berpikir. Pikiran boleh saja kacau, tetapi jangan sekali-kali kacau di hati. Pikiran hanya untuk memikirkan urusan dunia, sedang urusan akhirat tempatnya di hati. Jika hati kacau, maka urusan akhirat akan kacau. Agar hati tidak kacau maka kita harus senantiasa berdoa.



(gambar tersebut saya ambil dari https://www.kompasiana.com)